Setiap kali kamu scroll media sosial, kamu melihat ratusan postingan. Ada yang lucu. Ada yang nyebelin. Ada yang bikin kamu berhenti sebentar lalu mikir, “Kok relate banget, ya?” Tapi jarang ada yang mikir satu hal sederhana:

siapa orang di balik postingan ini?

Di balik satu foto estetik, ada seseorang yang mikir berjam-jam soal caption. Di balik satu thread viral, ada orang yang ngetik sambil ragu, takut salah paham, takut diserang, tapi tetap kirim karena merasa ini perlu disuarakan. Dan di balik satu akun bisnis yang kelihatan “rapi”, ada manusia yang tiap hari mikir, “Gimana caranya biar postingan ini nggak sepi lagi?”

Masalahnya, algoritma nggak peduli perasaan. Dia cuma lihat angka.

Like.

Komentar.

Share.

Save.

Kalau sepi, ya tenggelam. Padahal yang tenggelam itu bukan cuma kontennya, tapi orang di balik postingan ini.

Menurut laporan We Are Social 2025, rata-rata satu postingan hanya dilihat oleh kurang dari 10% followers. Artinya, dari 10.000 pengikut, kemungkinan cuma 900 orang yang benar-benar melihat kontenmu. Sisanya? Lewat begitu saja, kalah cepat sama video kucing atau gosip seleb.

Dan di titik itu, banyak orang mulai nyerah. Merasa kontennya jelek. Merasa dirinya nggak menarik. Padahal sering kali masalahnya bukan di kualitas, tapi di kurangnya percakapan awal. Algoritma butuh tanda bahwa postinganmu “hidup”. Dan tanda paling kuat bukan like, tapi interaksi manusia.

Komentar yang nyambung.

Balasan yang berlanjut.

Obrolan kecil yang bikin postinganmu terasa nyata.

Karena pada akhirnya, media sosial itu bukan soal konten paling sempurna, tapi soal siapa yang mau berhenti dan merespons. Dan di sinilah banyak brand, kreator, bahkan UMKM kelelahan sendirian. Mereka bukan malas. Bukan nggak kreatif. Mereka cuma butuh satu hal: kehadiran manusia di awal. Bukan bot. Bukan akun palsu. Tapi orang sungguhan yang membaca, merespons, dan ngobrol secara alami.

Itulah kenapa Solusimedsos.id hadir sebagai Pusat Engagement Organik. Kami membantu kontenmu mendapatkan interaksi dari manusia asli, supaya algoritma melihat bahwa postinganmu layak diperhatikan.

Bukan untuk memalsukan popularitas, tapi untuk membuka pintu percakapan. Karena setiap postingan punya cerita.

Dan setiap cerita punya orang di balik postingan yang layak didengar.

Facebook
Threads
WhatsApp
Scroll to Top